Oleh: shienny | Mei 3, 2010

KADya SunarIng DaMAR – 1

“Kadya sunaring damar ing sapucuking ardi. Sira kudu sumunar pepadhanging bumi. Dadi tepa tuladha ngabdi mring sesami”

“Bagaikan pelita yang bersinar di puncak gunung. Kamu harus bersinar menerangi bumi. Menjadi teladan mengabdi sesama”

Begitulah satu bait lagu dari Kidung Adi yang berjudul ‘Pralambang Kraton Swarga’ (Balada Kerajaan Allah). Lirik Lagu itu yang menginspirasi saya dalam mencari nama bagi calon putra kami. Inipun baru saya lakukan menjelang 3 minggu sebelum HPL (Hari Prakiraan Lahir) si ‘dedek’. Masalahnya hasil USG dan pengamatan dari kebanyakan orang mengindikasikan bakal bayi kami perempuan ( bahkan beberapa sohib seperjuangan saya memanggilnya ‘Jill’,hehe). Jadi santai sajalah… karena nama perempuan sudah kami kantongi sejak anak pertama kami lahir dengan gender lelaki. Tapi prinsip kami tetap mempersiapkan 2 nama, kalau-kalau…

Waktu itu, saya sedang berbaring di ranjang rumah sakit, menjalani program infus ‘Martos’ yang ke-4. Tiap program membutuhkan waktu 3 hari dengan total 9 ampul Martos. Hanya satu tujuan kuat yaitu supaya ‘dedek’ mendapat cukup makanan sehingga pertumbuhannya (setidaknya berat badannya) meningkat (bahasa ‘bodon’nya begitu kira-kira, maaf jika berbeda dengan bahasa medis).

Saya buka Kidung Adi sambil berdoa dalam hati “Ya Tuhan, nama apa ya yang cocok untuk anak kami…”. Bagi saya mencari nama intinya : 1 kata, mudah, tidak ‘ambiguous’, jelas dan bermakna. Hawa ‘sumuk’ tidak menghalangi saya berinspirasi, masih ada angin buatan dari kipas angin kecil yang dibawakan suami untuk mengusir panas dari ruangan kamar kelas 2 itu. Akhirnya muncul nama KADIMAR, dengan panggilan kerennya ‘KAKA’ (Kebetulan saya cukup nge-fans dengan pemain bola asal Brasil itu). Yah, paling tidak supaya nanti ‘pinter nendang’ atau ‘ngekop’ supaya csehingga cepat keluar dari perut, begitu ya kira-kira gampangnya.

Kaka, nama itu yang membuat saya menulis kembali blog yang sudah lama tak tersentuh. Pengalaman iman, kekuatan cintaNya lewat Kaka kecil yang mendorong saya kuat-kuat untuk berbicara…

Sebetulnya saya tidak tahu harus memulainya darimana… Setiap coretan tentangnya, cukup mengaduk perasaan juga ingatan saya tentangnya…

Maaf jika banyak ‘jeda’…

Kaka kecil mengajarkan kami, terutama saya, banyak hal.

Sebelum ‘merencanakan’ untuk memberikan adik bagi KEN (‘plus’ faktor usia juga), saya melakukan tes TORCH (meski beberapa ahli mengatakan sebetulnya tidak perlu alias bukan hal yang ‘esensial’ sih, mengingat baik atau tidaknya kehidupan baru itu tidak tergantung dari suatu hasil yang secara ekonomis tidak cukup murah dan resiko faktor ‘human error’ dlm mengoperasikan mesin). Namun demikian, demi sifat manusia kami yaitu menginginkan hasil yang terbaik, kami toh melakukannya juga. Tidak tanggung-tanggung, lembaran hasil TORCH tersebut kami konsultasikan ke lebih dari 1 ahli, dan ternyata ‘lampu hijau’lah yang kami dapatkan untuk ke taraf berikutnya…

Akhirnya puji syukur, saya pun dinyatakan positif (Juli 2009 – 3minggu usia kehamilan). Duh, senangnya. HPL yang kami dapatkan 11 April 2010. Hari-hari pun saya lalui seperti biasa, memang agak berbeda dengan kehamilan pertama. Kali ini sudah lebih banyak kesibukan dalam bekerja. Pemeriksaan rutin juga tidak pernah kami lewatkan.

Bulan Oktober 2009, saat usia kehamilan sekitar 14-15 minggu, sepertinya baik-baik saja, hanya dikatakan : ‘Iki cilik lho mbak…’, beda waktu KEN dulu ‘Guedhe ki bocah…’, meski penampilan perut memang tidak ‘signifikan’ gendutnya. Sejak saat itu, saya mulai akrab dengan Peptisol sesuai saran juga makanan ber karbohidrat dan protein tinggi ( ubi kukus, kentang kukus, dan kawan-kawannya).

Banyak yang menyarankan kami untuk USG 4 dimensi. Bukannya berlebihan, kami pun merencanakan demikian, demi hasil yang terbaik itu tadi. Kami segera berkonsultasi kapan waktu yang baik untuk ber’foto’ itu supaya hasilnya ‘keren’ begitu dan membuat janji di bulan Januari 2010 untuk USG 4D. Ketika saatnya tiba, rencana kami terpaksa ditangguhkan, karena air ketuban sangat minim ( istilahnya ‘oligohidramnion’ ). Tidak memungkinkan untuk dilakukan USG 4D . Itu saja ‘clue’ yang kami dapatkan.

Semakin hari gerakan Kaka semakin saya rasakan dan kami nikmati ( tidak hanya saya, juga sang Papah ikut senyam senyum melihat goyangannya ), meski banyak pergumulan batin yang timbul ditambah kekuatiran dari keluarga ( yang kami tahu, niat baik serta perhatian mereka mengikuti perkembangan Kaka di dalam rahim ). Yang terpenting buat saya hanya kata-kata semangat : “Nak, jangan ikutan sedih yah, ayo kita berjuang terus…”

Di akhir Januari 2010, saya berkesempatan melakukan perjalanan ke Surabaya untuk mengikuti seminar. Selain seminar, dengan tujuan yang masih sama pula, saya pun berkonsultasi dengan ahli rekomendasi kerabat dan saudara. Hasilnya… ‘nggih sami mawon’: USG 4D gagal (meski sudah dibayar sesuai ‘tarip’ 4D), air ketuban garing, berat badan ‘fetus’ yang dibawah normal, malah ada satu diagnosa tambahan yang cukup membuat ‘shock’, yaitu ada ‘tanda tanya’ pada ginjal. Waduh rasanya sudah tidak karuan. Namanya ‘manusia’, selalu tidak puas dengan kondisi ‘yang tidak sesuai’ dengan keinginan, saya pun berusaha mencari pendapat lain. Entah itu lebih parah ataupun lebih melegakan. Akhirnya perasaan lega itu saya dapatkan, walau harus antri di ruang tunggu berjam-jam dan ‘tengah malam’. Saya sungguh menghargai kedua tante dan kakak sepupu saya yang dengan penuh cinta menemani alias rela jadi ‘korban’ kegalauan hati saya. Setelah itu kami pun pulang dengan lebih tenang dan dengan satu tambahan pelajaran : “Ayo minum yang banyak”.

Bulan Februari 2010, kembali kami berkonsultasi, kali ini cukup serius. Hasil diagnosa meunjukkan pertumbuhan Kaka yang tampak jauh ketinggalan dengan kisaran usia 30 minggu dan berat 1.271 gram, sungguh mengkhawatirkan. Dalam hati bertanya : Ada apa ? Dalam bahasa awam dikatakan plasentanya kurang baik alias cepat tua ( over maturitas ), sehingga arus lalu lintas makanan tidak maksimal ( seandainya ada ‘polisi lalu lintas’ di sana ya…). Air ketuban tetap saja minim, selain itu ada tambahan di cetakan USG tertulis ‘female’. Saya tetap berusaha makan dan minum banyak, bahkan tidak sedikit kerabat dan teman yang ikut mengingatkan saya, bahkan sudah hafal dengan ‘bawaan’ saya ( keranjang anyaman biru lengkap dengan isi nya ). Tidak cukup itu saja, ada hasil diagnosa baru, hanya 3 huruf sih, tapi pengaruhnya cukup ‘dahsyat’ buat hati kami berdua, dahsyat mengguncang maksudnya. 3 huruf itu adalah TOF (Tetralogy of Fallot), kelainan bawaan jantung. Semakin berat hati kami saat bertanya pada mas ‘google’ mengenai si 3 ‘hurup’ itu. Tapi, disela-sela informasi dan cerita yang menakutkan itu, Tuhan memberikan saya satu cerita yang menguatkan, dan ketika saya cari kembali (hingga kini) sulit saya temukan ya?

Sejak saat itu, pikiran kami mulai berat. Kami sungguh bersyukur memiliki sahabat-sahabat yang biasa menjadi tempat curahan batin. Saya mulai menulis email sambil bercucuran air mata ( padahal sudah saya usahakan ‘mati-matian’ untuk tidak menangis ), menulis sms dan sedikit sharing ke beberapa kerabat dan sahabat. Dan memang betul, sedikit saja perhatian dari mereka cukup menyiram hati yang penuh gejolak, membangun sedikit batin yang porak poranda seperti puing-puing bangunan yang berserakan. Sekali lagi saya berkata :”Ayo Nak, kita tetap berjuang ya…” penuh harap…


Tanggapan

  1. dear mama Shienny
    thanks ya udah sharing ini.. kita jadi belajar banyak ttg hidup dan amazed sama perjuangan keluarga bu Shienny

    GOD bless

    best regards,
    pei pei

    • dear Pei,
      sama-sama belajar ya… yang penting ‘Non Abbiate Paura’, artinya : Jangan takut !
      Masing-masing punya perjuangan hidup, jadi ayo sama-sama berjuang pula, dengan begitu semoga iman kita makin dikuatkan. amin.

      Berkah dalem…


Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.