Oleh: shienny | Mei 3, 2010

KADya SunarIng DaMAR – 2

Aku bersyukur kepadaMu oleh karena kejadianku dahsyat dan ajaib; ajaib apa yang Kau buat, dan jiwaku benar-benar menyadarinya.” ( Mazmur 139 : 14 )

Kami sungguh bersyukur, perhatian tante dari Surabaya yang khusus datang untuk membantu di rumah menanti masa kelahiran hingga ‘paska’ melahirkan. Tgl. 25 Februari 2010, kami memutuskan untuk berangkat ke Jakarta. Dasar sifat manusia kami, tidak jera juga selalu mencari solusi, meski masih kabur… apa itu? Saya tidak bisa lupa tanggal itu… yang membuat seolah-olah dunia ‘runtuh’! bak bumi berhenti berputar! Bagaimana tidak, kami disarankan untuk ‘mengambil’ Kaka sesegera mungkin ( artinya menghentikan hidup Kaka ) dengan alasan pasti tidak ada harapan hidup saat lahir ; kelainan bawaan yang cukup kompleks hingga ke kelainan kromosom. Kami lemas dan tidak kembali untuk melakukan  hal itu. Tentu jawaban kami TIDAK! Tidak akan pernah! Rasanya setengah hari itu ‘gelap’, menangis lebih baik, sambil berdoa dan mendapat ketenangan dari dukungan sebagian keluarga dan sahabat. Hingga akhirnya hati kami lebih siap ketika mendengar pendapat lain  yang kembali memuat 3 huruf seputar kondisi jantung Kaka : TGA, ASD, VSD ( terus terang saya jadi agak ‘ngeri’ dengan 3 huruf, tentu kecuali KEN ). Ya sudah, kami mulai lebih tenang, merenung lebih dalam lagi…dan kembali ke Jogja.

Tgl.27 Februari 2010, usia kehamilan 34 minggu hasil USG menunjukkan berat badan Kaka masih mencapai 1.427 gram. Saya dianjurkan untuk menjalani program infus sehingga diharapakan dapat mengejar ketinggalan berat badan. Kami memutuskan untuk menjalani program infuse dengan penuh doa dan harapan. Bahkan seorang sahabat lama mengirimkan buku yang sungguh memberikan kekuatan ekstra. Buku itu tulisan dari James C. Dobson, Ph.D dalam Fokus Pada Keluarga, dengan judul “When GOD doesn’t MAKE SENSE “– Ketika Tuhan tidak dapat dimengerti. Dan ada buku lagi yang diantar oleh sahabat seniman dari tulisan peneliti berkebangsaan Jepang Dr.Kazuo Murakami mengenai “The Divine Message Of The DNA” – Tuhan dalam Gen kita. Pengalaman bersama tulisan-tulisan itu sangat membangkitkan semangat dan menjadi sumber penghiburan bagi kami. Rasanya kami ingin segera USG setelah selesai program, batin kami, efek infus itu bisa langsung ‘cespleng’ hasilnya dan berat badan Kaka naik! Tapi kenyataannya kami harus menunggu beberapa hari untuk USG. Sembari menunggu, kami  melakukan Echocardiogram untuk mengetahui lebih detil kondisi jantung Kaka. Echocardiogram menunjukkan memang jelas tampak ada kelainan pada jantung yang cukup besar.

Hari yang kami tunggu itu tiba, yaitu saat USG setelah menjalani program infus, tapi yang dinanti berhalangan hadir karena sakit, sehingga tanpa USG kami tetap disarankan untuk infus lagi. Program infus ke-2 saya jalani tgl. 11 Maret 2010. Hari-hari pada masa infus, memberikan banyak kenangan. Dari bantuan dan jengukan seorang sahabat perawat, perjumpaan dengan rekan sekamar , juga dengan para perawat. Semua itu memberikan sentuhan dan inspirasi tersendiri buat saya, terutama  cinta dan perhatian dari suami yang sebetulnya ‘biasa saja’ tampaknya tapi begitu spesial buat saya pribadi. Seperti ada yang ‘dekat’ di saat itu, termasuk jengukan sedikit kerabat, papah mamah serta tak ketinggalan KEN :p

Akhirnya setelah beberapa hari kemudian, hasil USG menunjukkan berat badan Kaka menjadi  1.689 gram. Kami jadi lebih bersemangat untuk menjalani  program yang ke-3 pada tanggal 19 Maret 2010. Sebagian besar kebiasaan dan jadwal dari infus telah kami pahami, sehingga dapat disesuaikan pula dengan jadwal pekerjaan ( sst…malahan saya masih sempat mengadakan ‘meeting’ singkat di bangsal ).

Seperti biasa, kami ingin segera USG lagi, namun alat USG sedang dalam perbaikan. Ya sudah, kami sepakat tetap untuk melanjutkan program infus yang ke-4, hingga akhirnya mencapai prakiraan 2.100 gram.

Kembali kami melakukan Echocardiogram yang terakhir dan dengan kesimpulan yang tidak lebih membaik yaitu: TOF berat. Hari semakin dekat dengan 40 minggu dan kamipun sudah pasrah sambil mendaraskan novena dan doa. Apa perasaan saya? Pikiran saya memang cukup ‘ngalor-ngidul’. Saya harus siap dengan segala kondisi Kaka nantinya. Namun satu hal yang saya ingin Kaka tahu, saya sama sekali tidak takut dengan kondisinya nanti, apapun itu…saya memang tidak tahu dan tidak bisa membayangkan… yang saya yakini, saya akan melakukan ‘apapun’ untuk Kaka, meski saya tidak bisa berbuat apa-apa selain mendampinginya dan memberikan cinta semampu saya dalam kondisi se’buruk’ apapun itu. Saya percaya pasti ada jalan dariNya. Banyak pertanyaan yang muncul di otak: bagaimana dengan keluarga saya, anak saya, pekerjaan saya? Saya betul-betul tidak tahu… seperti potongan lirik lagu yang dinyanyikan grup musik wanita ‘She’ yang berjudul Bukan Untuk Sembarang Hati : “Sungguh aku cinta kamu, bukan untuk sembarang hati, hingga nafas berhenti, aku rela berlelah untukmu”

Tak ketinggalan kekuatan itu juga muncul dari seorang sohib yang tinggal di Bali dan keluarganya yang telah memberikan dukungan dengan segala talenta yang berasal daripadaNya untuk senantiasa mendampingi kami dan Kaka.

Di minggu-minggu akhir ( ke-39 dan 40 ) saya semakin merasakan kegembiraan dan ketenangan ( aneh juga ya? ), terutama karena gerakan yang semakin kuat dan hasil NST ( Non Stress Test ) Kaka menunjukkan hasil yang  reaktif.  Seolah tidak mempedulikan lagi rentetan peristiwa dan informasi lalu yang cukup melelahkan jiwa raga. Jalan-jalan pagi, makan es krim, mendengarkan music, berziarah ke Ganjuran sambil ber Jumat Agung disana, kami lakukan dengan hati penuh harap. Tak ketinggalan juga bercandan dengan asisten di kelas dan telepon canda dengan para sahabat membuat hati terasa ringan.

Sudah lewat HPL itu, belum ada tanda apa-apa. Ah, barangkali Kaka mengikuti jejak kokonya yang juga ‘mbeler’ hingga harus diinduksi. Ya wis, tunggu saja begitu hati kecil saya berkata. Kami diberi aba-aba, jika sampai tgl 19 April 2010 (notabene umur kehamilan telah memasuki 41 minggu) belum juga ada tanda-tanda (mules), maka akan dilakukan operasi Caesar pada tgl. 20 April 2010. Hanya ada 2 ‘opsi’: lahir spontan atau caesar, induksi tidak disarankan untuk histori yang demikian rentan.

Hari Minggu Legi, 18 April 2010, dini hari saya sudah mulai merasa ‘tidak enak’ tidur. Ketika mandi pagi, sudah tampak lendir dan darah dengan sedikit perut yang terasa tidak nyaman (orang bilang kontraksi). Lalu saya dan keluarga pergi ke gereja, sesekali memang perut terasa tidak nyaman itu tadi. Waduh, mulai ada perasan yang kuat bakal segera jumpa dengan Kaka. Setelah diberkati oleh Romo, kami menuju ke rumah sakit untuk mencari tahu sudah sebesar apa kontraksi itu. Hari Minggu, tentu hanya para suster bidan yang ‘standby’ Saya pun diberi sarapan (sambil sesekali ‘mringis’ yo… ).

Kontraksi itu makin menguat dan akhirnya saya pun merasakan kembali  ‘aduhai’nya melahirkan. Sungguh membutuhkan hati  yang kuat untuk tetap bertahan. Ingin sekali mengatakan “Stooooop, tidak kuat lagi!” Tapi keinginan bertemu Kaka dan ‘suporter’ dari suster bidan yang betul-betul bisa menggugah semangat, hingga akhirnya pukul 11.45 kepala Kaka muncul dari rahim dan saya berhasil melihat punggungnya di ranjang. Tak ada suara tangisan…

Kaka segera ditangani oleh ahlinya…saya hanya bisa memandang dari kejauhan : sebagian tubuh dan wajahnya dari samping. Lalu Kaka di bawa ke ruang NICU untuk dilakukan pertolongan lanjut. Saya tidak tahan untuk segera menyusul Kaka. Saya hanya ingin memeluknya, mendampinginya, menciumnya dan mengatakan bahwa saya bersyukur pada Tuhan dan padanya …  serta saya mencintainya selalu…

Kaka dibaptis dengan santo pelindung Fransiskus dari Asisi oleh Romo Hartono Budi, Sj. dan wali baptisnya om Arif Haliman. Dan ketika air itu membasahi rambutnya yang hitam, ada sedikit gerakan kepala darinya. Saya puaskan memandangi, mengelus serta mencium Kaka, hingga akhirnya saya kembali ke ruang bersalin sambil senantiasa berdoa dan pasrah. Berat badan Kaka 2,45 kg dan panjang 46 cm. Kaka kecil kami pulang ke rumah Gusti sekitar hampir pukul 14.30. Hampir 3 jam saja…

Meski saya merasa… ada yang ‘hilang’… tapi saya juga mendapat banyak dari Kaka yang demikian kecil itu. Memang betul apa yang pernah dikatakan oleh Romo, bahwa kita harus banyak belajar dari anak kecil.

Kehadiran Kaka membuat banyak pencerahan bagi kami :

Bahwa rencanaNya bukanlah rencana manusia. Meski segalanya telah dipersiapkan oleh kami, jenis kelamin dan hari lahir yang telah diperkirakan serta segala kekuatiran yang timbul…

Bahwa kerahiman Allah pada manusia sungguh seperti saat Kaka berada di dalam rahim. Meski organ tubuh Kaka banyak kekurangan, tapi ‘rahim’ dengan segala kelengkapannya itulah yang tetap membuatnya hidup, memberikan daya hidup. Itulah Cinta yang menghidupkan. Kita sungguh dihidupi oleh kerahiman Allah.

Gusti selalu ‘dekat’ dan memberi kekuatan melalui semua perhatian dan ketulusan dari orang-orang disekitar kita… dari yang paling sederhana sekalipun. Lewat tante yang rela datang jauh-jauh dari Surabaya untuk membantu di rumah selama 2 bulan, perhatian keluarga (termasuk kekhawatiran ibu saya dan sikap KEN yang penuh pengertian meski mamahnya sering ‘mondok’ di Rumah Sakit), para ahli dan juga suster, terutama suster bidan yang telah membantu saya dalam persalinan… Sungguh masih membekas dalam ingatan saya. SabdaNya dalam Kitab Suci, doa-doa, kiriman buku, serta energi dari para sahabat dan romo, … semuanya itu memberikan daya bagi kami. Tak terkecuali Kaka, yang begitu mncintai kami, sehingga kekurangan yang ada padanya tidak dapat dilihat dengan jelas dari awal sehingga tidak menimbulkan kekuatiran yang ‘hebat’ pada kami ( dia betul-betul menjaga hati kami ) serta perjuangannya keluar dari rahim, sehingga saya tidak sampai di ruang operasi. Kaka yang demikian kecil mampu memberikan teladan : bagaimana cara mencintai itu… Itu sebabnya saya menyebutnya anak yang hebat, saya sungguh minta maaf atas segala keterbatasan saya padanya selama itu dan kami pun bahagia menjadi orang tuanya meski hanya berjumpa tidak sampai 3 jam.

Akhir kata…

Saya sungguh bersyukur atas kesempatan 41 minggu ber’dua’an dengannya bahkan saya berharap tanda bekas infus di tangan saya tidak akan pernah hilang… itu tanda mata yang terindah darinya.

Fransiskus Asisi Kadimar Wijoyanto…kami akan selalu mencintaimu… dan terus berdoa untukmu.

“Sebab Engkaulah yang membentuk buah pinggangku, menenun aku dalam kandungan ibuku.

Aku bersyukur sebab kejadianku dahsyat dan ajaib; ajaib apa  yang Kaubuat, dan jiwaku benar-benar menyadarinya;

Tulang-tulangku tidak terlindung bagiMu, ketika aku dijadikan di tempat yang tersembunyi, dan aku direkam di bagian-bagian bumi yang paling bawah;

mataMu melihat selagi aku bakal anak, dan dalam kitabMu semuanya tertulis hari-hari yang akan dibentuk, sebelum ada satupun dari padanya.

Dan bagiku, betapa sulitnya pikiranMu, ya Allah! Betapa besar jumlahnya!

Jika aku mau menghitungnya, itu lebih banyak dari pada pasir. Apabila aku berhenti, masih saja aku bersama-sama Engkau.” (Mazmur 139 : 13-18)

“Cukuplah kasih karuniaKu bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasaKu menjadi sempurna.” ( 2 Kor  12 : 9 )

Dan dalam kelemahan  kami berseru : “Tetapi harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat, supaya nyata bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami.” ( 2 Kor 4 : 7 )

Cerita Alkitab ‘Sadrakh, Mesakh, dan Abednego’ dalam Daniel 3 : 17-18 pun turut meneguhkan kami : “Kami percaya Allah sanggup menyempurnakan Kaka, tetapi seandainya tidak, iman kami akan tetap dan akan terus mempercayai Dia”.

Amin.

Oleh: shienny | Mei 3, 2010

KADya SunarIng DaMAR – 1

“Kadya sunaring damar ing sapucuking ardi. Sira kudu sumunar pepadhanging bumi. Dadi tepa tuladha ngabdi mring sesami”

“Bagaikan pelita yang bersinar di puncak gunung. Kamu harus bersinar menerangi bumi. Menjadi teladan mengabdi sesama”

Begitulah satu bait lagu dari Kidung Adi yang berjudul ‘Pralambang Kraton Swarga’ (Balada Kerajaan Allah). Lirik Lagu itu yang menginspirasi saya dalam mencari nama bagi calon putra kami. Inipun baru saya lakukan menjelang 3 minggu sebelum HPL (Hari Prakiraan Lahir) si ‘dedek’. Masalahnya hasil USG dan pengamatan dari kebanyakan orang mengindikasikan bakal bayi kami perempuan ( bahkan beberapa sohib seperjuangan saya memanggilnya ‘Jill’,hehe). Jadi santai sajalah… karena nama perempuan sudah kami kantongi sejak anak pertama kami lahir dengan gender lelaki. Tapi prinsip kami tetap mempersiapkan 2 nama, kalau-kalau…

Waktu itu, saya sedang berbaring di ranjang rumah sakit, menjalani program infus ‘Martos’ yang ke-4. Tiap program membutuhkan waktu 3 hari dengan total 9 ampul Martos. Hanya satu tujuan kuat yaitu supaya ‘dedek’ mendapat cukup makanan sehingga pertumbuhannya (setidaknya berat badannya) meningkat (bahasa ‘bodon’nya begitu kira-kira, maaf jika berbeda dengan bahasa medis).

Saya buka Kidung Adi sambil berdoa dalam hati “Ya Tuhan, nama apa ya yang cocok untuk anak kami…”. Bagi saya mencari nama intinya : 1 kata, mudah, tidak ‘ambiguous’, jelas dan bermakna. Hawa ‘sumuk’ tidak menghalangi saya berinspirasi, masih ada angin buatan dari kipas angin kecil yang dibawakan suami untuk mengusir panas dari ruangan kamar kelas 2 itu. Akhirnya muncul nama KADIMAR, dengan panggilan kerennya ‘KAKA’ (Kebetulan saya cukup nge-fans dengan pemain bola asal Brasil itu). Yah, paling tidak supaya nanti ‘pinter nendang’ atau ‘ngekop’ supaya csehingga cepat keluar dari perut, begitu ya kira-kira gampangnya.

Kaka, nama itu yang membuat saya menulis kembali blog yang sudah lama tak tersentuh. Pengalaman iman, kekuatan cintaNya lewat Kaka kecil yang mendorong saya kuat-kuat untuk berbicara…

Sebetulnya saya tidak tahu harus memulainya darimana… Setiap coretan tentangnya, cukup mengaduk perasaan juga ingatan saya tentangnya…

Maaf jika banyak ‘jeda’…

Kaka kecil mengajarkan kami, terutama saya, banyak hal.

Sebelum ‘merencanakan’ untuk memberikan adik bagi KEN (‘plus’ faktor usia juga), saya melakukan tes TORCH (meski beberapa ahli mengatakan sebetulnya tidak perlu alias bukan hal yang ‘esensial’ sih, mengingat baik atau tidaknya kehidupan baru itu tidak tergantung dari suatu hasil yang secara ekonomis tidak cukup murah dan resiko faktor ‘human error’ dlm mengoperasikan mesin). Namun demikian, demi sifat manusia kami yaitu menginginkan hasil yang terbaik, kami toh melakukannya juga. Tidak tanggung-tanggung, lembaran hasil TORCH tersebut kami konsultasikan ke lebih dari 1 ahli, dan ternyata ‘lampu hijau’lah yang kami dapatkan untuk ke taraf berikutnya…

Akhirnya puji syukur, saya pun dinyatakan positif (Juli 2009 – 3minggu usia kehamilan). Duh, senangnya. HPL yang kami dapatkan 11 April 2010. Hari-hari pun saya lalui seperti biasa, memang agak berbeda dengan kehamilan pertama. Kali ini sudah lebih banyak kesibukan dalam bekerja. Pemeriksaan rutin juga tidak pernah kami lewatkan.

Bulan Oktober 2009, saat usia kehamilan sekitar 14-15 minggu, sepertinya baik-baik saja, hanya dikatakan : ‘Iki cilik lho mbak…’, beda waktu KEN dulu ‘Guedhe ki bocah…’, meski penampilan perut memang tidak ‘signifikan’ gendutnya. Sejak saat itu, saya mulai akrab dengan Peptisol sesuai saran juga makanan ber karbohidrat dan protein tinggi ( ubi kukus, kentang kukus, dan kawan-kawannya).

Banyak yang menyarankan kami untuk USG 4 dimensi. Bukannya berlebihan, kami pun merencanakan demikian, demi hasil yang terbaik itu tadi. Kami segera berkonsultasi kapan waktu yang baik untuk ber’foto’ itu supaya hasilnya ‘keren’ begitu dan membuat janji di bulan Januari 2010 untuk USG 4D. Ketika saatnya tiba, rencana kami terpaksa ditangguhkan, karena air ketuban sangat minim ( istilahnya ‘oligohidramnion’ ). Tidak memungkinkan untuk dilakukan USG 4D . Itu saja ‘clue’ yang kami dapatkan.

Semakin hari gerakan Kaka semakin saya rasakan dan kami nikmati ( tidak hanya saya, juga sang Papah ikut senyam senyum melihat goyangannya ), meski banyak pergumulan batin yang timbul ditambah kekuatiran dari keluarga ( yang kami tahu, niat baik serta perhatian mereka mengikuti perkembangan Kaka di dalam rahim ). Yang terpenting buat saya hanya kata-kata semangat : “Nak, jangan ikutan sedih yah, ayo kita berjuang terus…”

Di akhir Januari 2010, saya berkesempatan melakukan perjalanan ke Surabaya untuk mengikuti seminar. Selain seminar, dengan tujuan yang masih sama pula, saya pun berkonsultasi dengan ahli rekomendasi kerabat dan saudara. Hasilnya… ‘nggih sami mawon’: USG 4D gagal (meski sudah dibayar sesuai ‘tarip’ 4D), air ketuban garing, berat badan ‘fetus’ yang dibawah normal, malah ada satu diagnosa tambahan yang cukup membuat ‘shock’, yaitu ada ‘tanda tanya’ pada ginjal. Waduh rasanya sudah tidak karuan. Namanya ‘manusia’, selalu tidak puas dengan kondisi ‘yang tidak sesuai’ dengan keinginan, saya pun berusaha mencari pendapat lain. Entah itu lebih parah ataupun lebih melegakan. Akhirnya perasaan lega itu saya dapatkan, walau harus antri di ruang tunggu berjam-jam dan ‘tengah malam’. Saya sungguh menghargai kedua tante dan kakak sepupu saya yang dengan penuh cinta menemani alias rela jadi ‘korban’ kegalauan hati saya. Setelah itu kami pun pulang dengan lebih tenang dan dengan satu tambahan pelajaran : “Ayo minum yang banyak”.

Bulan Februari 2010, kembali kami berkonsultasi, kali ini cukup serius. Hasil diagnosa meunjukkan pertumbuhan Kaka yang tampak jauh ketinggalan dengan kisaran usia 30 minggu dan berat 1.271 gram, sungguh mengkhawatirkan. Dalam hati bertanya : Ada apa ? Dalam bahasa awam dikatakan plasentanya kurang baik alias cepat tua ( over maturitas ), sehingga arus lalu lintas makanan tidak maksimal ( seandainya ada ‘polisi lalu lintas’ di sana ya…). Air ketuban tetap saja minim, selain itu ada tambahan di cetakan USG tertulis ‘female’. Saya tetap berusaha makan dan minum banyak, bahkan tidak sedikit kerabat dan teman yang ikut mengingatkan saya, bahkan sudah hafal dengan ‘bawaan’ saya ( keranjang anyaman biru lengkap dengan isi nya ). Tidak cukup itu saja, ada hasil diagnosa baru, hanya 3 huruf sih, tapi pengaruhnya cukup ‘dahsyat’ buat hati kami berdua, dahsyat mengguncang maksudnya. 3 huruf itu adalah TOF (Tetralogy of Fallot), kelainan bawaan jantung. Semakin berat hati kami saat bertanya pada mas ‘google’ mengenai si 3 ‘hurup’ itu. Tapi, disela-sela informasi dan cerita yang menakutkan itu, Tuhan memberikan saya satu cerita yang menguatkan, dan ketika saya cari kembali (hingga kini) sulit saya temukan ya?

Sejak saat itu, pikiran kami mulai berat. Kami sungguh bersyukur memiliki sahabat-sahabat yang biasa menjadi tempat curahan batin. Saya mulai menulis email sambil bercucuran air mata ( padahal sudah saya usahakan ‘mati-matian’ untuk tidak menangis ), menulis sms dan sedikit sharing ke beberapa kerabat dan sahabat. Dan memang betul, sedikit saja perhatian dari mereka cukup menyiram hati yang penuh gejolak, membangun sedikit batin yang porak poranda seperti puing-puing bangunan yang berserakan. Sekali lagi saya berkata :”Ayo Nak, kita tetap berjuang ya…” penuh harap…

Oleh: shienny | Juli 6, 2009

Berenang Lagi…

Renang Rame-rame

Renang Rame-rame

Momen liburan sekolah, memang asyik untuk berkumpul… apalagi rumah yang biasanya sepi, jadi tambah seru! Ada ci Janice dan koko Ariel, serta koko Owen dan Orlando yang menyusul.

Berenang yuk Ko! Perlengkapan yang harus dibawa jangan sampai ketinggalan lho : papan renang, ban tangan, baby oil, baju lengan panjang dan celana panjang untuk sehabis renang, perlengkapan mandi, minyak telon, dan… susu!

Rupanya Ken senang juga di kolam yang dewasa alias dalam… lebih tidak padat dan luas ya rasanya!

Di kolam yang 'jero'

Di kolam yang 'jero'

Ayo cibang cibung…, kepala dimasukkan ke dalam air…, hmm sueger rek!

Pokoknya sebisa mungkin renang ini jadi jadwal mingguan Ken nih! Untuk latihan fisik dan juga memuaskan ‘kegirangan’ Ken.

Setelah berenang, mandi yang bersih, lalu minum susu ya Ken, hmm, jadi ‘anget’ dan enak.

Tulisan Sebelumnya »

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.