“Aku bersyukur kepadaMu oleh karena kejadianku dahsyat dan ajaib; ajaib apa yang Kau buat, dan jiwaku benar-benar menyadarinya.” ( Mazmur 139 : 14 )
Kami sungguh bersyukur, perhatian tante dari Surabaya yang khusus datang untuk membantu di rumah menanti masa kelahiran hingga ‘paska’ melahirkan. Tgl. 25 Februari 2010, kami memutuskan untuk berangkat ke Jakarta. Dasar sifat manusia kami, tidak jera juga selalu mencari solusi, meski masih kabur… apa itu? Saya tidak bisa lupa tanggal itu… yang membuat seolah-olah dunia ‘runtuh’! bak bumi berhenti berputar! Bagaimana tidak, kami disarankan untuk ‘mengambil’ Kaka sesegera mungkin ( artinya menghentikan hidup Kaka ) dengan alasan pasti tidak ada harapan hidup saat lahir ; kelainan bawaan yang cukup kompleks hingga ke kelainan kromosom. Kami lemas dan tidak kembali untuk melakukan hal itu. Tentu jawaban kami TIDAK! Tidak akan pernah! Rasanya setengah hari itu ‘gelap’, menangis lebih baik, sambil berdoa dan mendapat ketenangan dari dukungan sebagian keluarga dan sahabat. Hingga akhirnya hati kami lebih siap ketika mendengar pendapat lain yang kembali memuat 3 huruf seputar kondisi jantung Kaka : TGA, ASD, VSD ( terus terang saya jadi agak ‘ngeri’ dengan 3 huruf, tentu kecuali KEN ). Ya sudah, kami mulai lebih tenang, merenung lebih dalam lagi…dan kembali ke Jogja.
Tgl.27 Februari 2010, usia kehamilan 34 minggu hasil USG menunjukkan berat badan Kaka masih mencapai 1.427 gram. Saya dianjurkan untuk menjalani program infus sehingga diharapakan dapat mengejar ketinggalan berat badan. Kami memutuskan untuk menjalani program infuse dengan penuh doa dan harapan. Bahkan seorang sahabat lama mengirimkan buku yang sungguh memberikan kekuatan ekstra. Buku itu tulisan dari James C. Dobson, Ph.D dalam Fokus Pada Keluarga, dengan judul “When GOD doesn’t MAKE SENSE “– Ketika Tuhan tidak dapat dimengerti. Dan ada buku lagi yang diantar oleh sahabat seniman dari tulisan peneliti berkebangsaan Jepang Dr.Kazuo Murakami mengenai “The Divine Message Of The DNA” – Tuhan dalam Gen kita. Pengalaman bersama tulisan-tulisan itu sangat membangkitkan semangat dan menjadi sumber penghiburan bagi kami. Rasanya kami ingin segera USG setelah selesai program, batin kami, efek infus itu bisa langsung ‘cespleng’ hasilnya dan berat badan Kaka naik! Tapi kenyataannya kami harus menunggu beberapa hari untuk USG. Sembari menunggu, kami melakukan Echocardiogram untuk mengetahui lebih detil kondisi jantung Kaka. Echocardiogram menunjukkan memang jelas tampak ada kelainan pada jantung yang cukup besar.
Hari yang kami tunggu itu tiba, yaitu saat USG setelah menjalani program infus, tapi yang dinanti berhalangan hadir karena sakit, sehingga tanpa USG kami tetap disarankan untuk infus lagi. Program infus ke-2 saya jalani tgl. 11 Maret 2010. Hari-hari pada masa infus, memberikan banyak kenangan. Dari bantuan dan jengukan seorang sahabat perawat, perjumpaan dengan rekan sekamar , juga dengan para perawat. Semua itu memberikan sentuhan dan inspirasi tersendiri buat saya, terutama cinta dan perhatian dari suami yang sebetulnya ‘biasa saja’ tampaknya tapi begitu spesial buat saya pribadi. Seperti ada yang ‘dekat’ di saat itu, termasuk jengukan sedikit kerabat, papah mamah serta tak ketinggalan KEN :p
Akhirnya setelah beberapa hari kemudian, hasil USG menunjukkan berat badan Kaka menjadi 1.689 gram. Kami jadi lebih bersemangat untuk menjalani program yang ke-3 pada tanggal 19 Maret 2010. Sebagian besar kebiasaan dan jadwal dari infus telah kami pahami, sehingga dapat disesuaikan pula dengan jadwal pekerjaan ( sst…malahan saya masih sempat mengadakan ‘meeting’ singkat di bangsal ).
Seperti biasa, kami ingin segera USG lagi, namun alat USG sedang dalam perbaikan. Ya sudah, kami sepakat tetap untuk melanjutkan program infus yang ke-4, hingga akhirnya mencapai prakiraan 2.100 gram.
Kembali kami melakukan Echocardiogram yang terakhir dan dengan kesimpulan yang tidak lebih membaik yaitu: TOF berat. Hari semakin dekat dengan 40 minggu dan kamipun sudah pasrah sambil mendaraskan novena dan doa. Apa perasaan saya? Pikiran saya memang cukup ‘ngalor-ngidul’. Saya harus siap dengan segala kondisi Kaka nantinya. Namun satu hal yang saya ingin Kaka tahu, saya sama sekali tidak takut dengan kondisinya nanti, apapun itu…saya memang tidak tahu dan tidak bisa membayangkan… yang saya yakini, saya akan melakukan ‘apapun’ untuk Kaka, meski saya tidak bisa berbuat apa-apa selain mendampinginya dan memberikan cinta semampu saya dalam kondisi se’buruk’ apapun itu. Saya percaya pasti ada jalan dariNya. Banyak pertanyaan yang muncul di otak: bagaimana dengan keluarga saya, anak saya, pekerjaan saya? Saya betul-betul tidak tahu… seperti potongan lirik lagu yang dinyanyikan grup musik wanita ‘She’ yang berjudul Bukan Untuk Sembarang Hati : “Sungguh aku cinta kamu, bukan untuk sembarang hati, hingga nafas berhenti, aku rela berlelah untukmu”
Tak ketinggalan kekuatan itu juga muncul dari seorang sohib yang tinggal di Bali dan keluarganya yang telah memberikan dukungan dengan segala talenta yang berasal daripadaNya untuk senantiasa mendampingi kami dan Kaka.
Di minggu-minggu akhir ( ke-39 dan 40 ) saya semakin merasakan kegembiraan dan ketenangan ( aneh juga ya? ), terutama karena gerakan yang semakin kuat dan hasil NST ( Non Stress Test ) Kaka menunjukkan hasil yang reaktif. Seolah tidak mempedulikan lagi rentetan peristiwa dan informasi lalu yang cukup melelahkan jiwa raga. Jalan-jalan pagi, makan es krim, mendengarkan music, berziarah ke Ganjuran sambil ber Jumat Agung disana, kami lakukan dengan hati penuh harap. Tak ketinggalan juga bercandan dengan asisten di kelas dan telepon canda dengan para sahabat membuat hati terasa ringan.
Sudah lewat HPL itu, belum ada tanda apa-apa. Ah, barangkali Kaka mengikuti jejak kokonya yang juga ‘mbeler’ hingga harus diinduksi. Ya wis, tunggu saja begitu hati kecil saya berkata. Kami diberi aba-aba, jika sampai tgl 19 April 2010 (notabene umur kehamilan telah memasuki 41 minggu) belum juga ada tanda-tanda (mules), maka akan dilakukan operasi Caesar pada tgl. 20 April 2010. Hanya ada 2 ‘opsi’: lahir spontan atau caesar, induksi tidak disarankan untuk histori yang demikian rentan.
Hari Minggu Legi, 18 April 2010, dini hari saya sudah mulai merasa ‘tidak enak’ tidur. Ketika mandi pagi, sudah tampak lendir dan darah dengan sedikit perut yang terasa tidak nyaman (orang bilang kontraksi). Lalu saya dan keluarga pergi ke gereja, sesekali memang perut terasa tidak nyaman itu tadi. Waduh, mulai ada perasan yang kuat bakal segera jumpa dengan Kaka. Setelah diberkati oleh Romo, kami menuju ke rumah sakit untuk mencari tahu sudah sebesar apa kontraksi itu. Hari Minggu, tentu hanya para suster bidan yang ‘standby’ Saya pun diberi sarapan (sambil sesekali ‘mringis’ yo… ).
Kontraksi itu makin menguat dan akhirnya saya pun merasakan kembali ‘aduhai’nya melahirkan. Sungguh membutuhkan hati yang kuat untuk tetap bertahan. Ingin sekali mengatakan “Stooooop, tidak kuat lagi!” Tapi keinginan bertemu Kaka dan ‘suporter’ dari suster bidan yang betul-betul bisa menggugah semangat, hingga akhirnya pukul 11.45 kepala Kaka muncul dari rahim dan saya berhasil melihat punggungnya di ranjang. Tak ada suara tangisan…
Kaka segera ditangani oleh ahlinya…saya hanya bisa memandang dari kejauhan : sebagian tubuh dan wajahnya dari samping. Lalu Kaka di bawa ke ruang NICU untuk dilakukan pertolongan lanjut. Saya tidak tahan untuk segera menyusul Kaka. Saya hanya ingin memeluknya, mendampinginya, menciumnya dan mengatakan bahwa saya bersyukur pada Tuhan dan padanya … serta saya mencintainya selalu…
Kaka dibaptis dengan santo pelindung Fransiskus dari Asisi oleh Romo Hartono Budi, Sj. dan wali baptisnya om Arif Haliman. Dan ketika air itu membasahi rambutnya yang hitam, ada sedikit gerakan kepala darinya. Saya puaskan memandangi, mengelus serta mencium Kaka, hingga akhirnya saya kembali ke ruang bersalin sambil senantiasa berdoa dan pasrah. Berat badan Kaka 2,45 kg dan panjang 46 cm. Kaka kecil kami pulang ke rumah Gusti sekitar hampir pukul 14.30. Hampir 3 jam saja…
Meski saya merasa… ada yang ‘hilang’… tapi saya juga mendapat banyak dari Kaka yang demikian kecil itu. Memang betul apa yang pernah dikatakan oleh Romo, bahwa kita harus banyak belajar dari anak kecil.
Kehadiran Kaka membuat banyak pencerahan bagi kami :
Bahwa rencanaNya bukanlah rencana manusia. Meski segalanya telah dipersiapkan oleh kami, jenis kelamin dan hari lahir yang telah diperkirakan serta segala kekuatiran yang timbul…
Bahwa kerahiman Allah pada manusia sungguh seperti saat Kaka berada di dalam rahim. Meski organ tubuh Kaka banyak kekurangan, tapi ‘rahim’ dengan segala kelengkapannya itulah yang tetap membuatnya hidup, memberikan daya hidup. Itulah Cinta yang menghidupkan. Kita sungguh dihidupi oleh kerahiman Allah.
Gusti selalu ‘dekat’ dan memberi kekuatan melalui semua perhatian dan ketulusan dari orang-orang disekitar kita… dari yang paling sederhana sekalipun. Lewat tante yang rela datang jauh-jauh dari Surabaya untuk membantu di rumah selama 2 bulan, perhatian keluarga (termasuk kekhawatiran ibu saya dan sikap KEN yang penuh pengertian meski mamahnya sering ‘mondok’ di Rumah Sakit), para ahli dan juga suster, terutama suster bidan yang telah membantu saya dalam persalinan… Sungguh masih membekas dalam ingatan saya. SabdaNya dalam Kitab Suci, doa-doa, kiriman buku, serta energi dari para sahabat dan romo, … semuanya itu memberikan daya bagi kami. Tak terkecuali Kaka, yang begitu mncintai kami, sehingga kekurangan yang ada padanya tidak dapat dilihat dengan jelas dari awal sehingga tidak menimbulkan kekuatiran yang ‘hebat’ pada kami ( dia betul-betul menjaga hati kami ) serta perjuangannya keluar dari rahim, sehingga saya tidak sampai di ruang operasi. Kaka yang demikian kecil mampu memberikan teladan : bagaimana cara mencintai itu… Itu sebabnya saya menyebutnya anak yang hebat, saya sungguh minta maaf atas segala keterbatasan saya padanya selama itu dan kami pun bahagia menjadi orang tuanya meski hanya berjumpa tidak sampai 3 jam.
Akhir kata…
Saya sungguh bersyukur atas kesempatan 41 minggu ber’dua’an dengannya bahkan saya berharap tanda bekas infus di tangan saya tidak akan pernah hilang… itu tanda mata yang terindah darinya.
Fransiskus Asisi Kadimar Wijoyanto…kami akan selalu mencintaimu… dan terus berdoa untukmu.
“Sebab Engkaulah yang membentuk buah pinggangku, menenun aku dalam kandungan ibuku.
Aku bersyukur sebab kejadianku dahsyat dan ajaib; ajaib apa yang Kaubuat, dan jiwaku benar-benar menyadarinya;
Tulang-tulangku tidak terlindung bagiMu, ketika aku dijadikan di tempat yang tersembunyi, dan aku direkam di bagian-bagian bumi yang paling bawah;
mataMu melihat selagi aku bakal anak, dan dalam kitabMu semuanya tertulis hari-hari yang akan dibentuk, sebelum ada satupun dari padanya.
Dan bagiku, betapa sulitnya pikiranMu, ya Allah! Betapa besar jumlahnya!
Jika aku mau menghitungnya, itu lebih banyak dari pada pasir. Apabila aku berhenti, masih saja aku bersama-sama Engkau.” (Mazmur 139 : 13-18)
“Cukuplah kasih karuniaKu bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasaKu menjadi sempurna.” ( 2 Kor 12 : 9 )
Dan dalam kelemahan kami berseru : “Tetapi harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat, supaya nyata bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami.” ( 2 Kor 4 : 7 )
Cerita Alkitab ‘Sadrakh, Mesakh, dan Abednego’ dalam Daniel 3 : 17-18 pun turut meneguhkan kami : “Kami percaya Allah sanggup menyempurnakan Kaka, tetapi seandainya tidak, iman kami akan tetap dan akan terus mempercayai Dia”.
Amin.



Komentar Terakhir